Nama boleh rawon soal trade marknya bisa macem-macem.
Pas pulang ke Malang, Mbah Kung saya sakit, seperti biasa kalau sudah tidak selera makan, saya tanya apa yang dia inginkan.
“Mbah mau Sate kambing Bang Hasan, tah?”
“Umurku dah 86 tahun, nggak berani makan gituan!”
“Lha terus, pengen nopo toh, Mbah?”
“Saya nggak selera makan, tapi pengen rawon brintik,” katanya merajuk.
Waduh, dimana tuh rawon brintik ? Karena saya nggak tahu. Mbah Kung membuat sebuah peta.
“Cara menuju rawon brintik, pertama lewat danau buaya, lalu hutan jagung, sampailah ke gunung tinggi!”
“Lho..!!! Mbah iki lak petunjuknya Dora The explorer.” *sambil lonjak-lonjak kayak Boots
Akhirnya, timbang bingung, kami ajak saja Mbah Kung makan di
Dan dengan gagahnya mengangkat jarinya. “Yu, biasane, yo!” Oalaaa..Mbah saya ternyata sering makan disini.
Bayangan saya tentang rawon brintik, pasti potongannya kecil-kecil, ngeruntel gitu. Trus dinamain rawon brintik. Tapi ternyata mbleset, jee... Dagingnya gede-gede, kuahnya pekat. Saya mengaduk-aduk nasi rawon. Sambil penasaran. “Apa yang brintik,ya?”
“Bu, kenapa kok dinamain rawon brintik?”
Ternyata ibu ini tidak langsung menjawab. Tarik nafas, lalu ngambil posisi di sebelah saya. Lalu menghela nafas, matanya menerawang, hidungnya kembang-kempis, tangannya meremas kain bajunya, seulas senyum yang diempet dilepaskan ke arah saya. Tsahhhh…
“Rawon ini dulu yang jual embah saya. Kebetulan embah saya itu rambutnya brintik (keriting). Akhirnya namanya jadi rawon brintik!”
Huauauauahahaha… Saya ngakak, sampai hampir keselek
Lalu sebuah pertanyaan nakal sempat terlintas, apakah ibu ini juga brintik rambutnya. Tapi agaknya suatu hal yang hil mustahal, lha ibu ini pake jilbab.
Pas pamit pulang, saya mbatin. “Untung jaman dulu belum ngetrend pelurusan rambut, lha kalau dilurusin namanya jadi rawon rebonding, donk!” Hehehehe…
Rawon Brintik
Jl. K.H. Ahmad Dahlan 39
Nb: Foto bawah diambil dari kapanlagi.com





pertamax...... btw aku ra doyan rawon je mbak, ....
ReplyDeletehmmm rawon, kupang lontong, rujak cingur, tahu campur Lamongan aku sukaaaaa..hihihi
ReplyDeleteeh, aku wes suwe nggak mangan rawon. malih pingin ngerawon :D
ReplyDeleteterakhir makan di rawon kalkulator itu, hmm...
ReplyDeleteiyah mas fahmi kapan ngerawon? hihihihi
jiakakakak mbah kungmu jan mbois polllll...
ReplyDeletenomor limaa..!!!
ReplyDeletewah lek bakule wes dhasaran sejak jamane MBAHE Mbak Mendol masih muda.....ya rawon kawak ikuuu.
** inget rawon daun jati- terminal sulang;Rembang*
dadi pengen rawonn :D
ReplyDeleteuntung ibu mertua lg berkunjung ke jkt, bawa bumbu rawon banyk dari Krian \:D/
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete“Untung jaman dulu belum ngetrend pelurusan rambut, lha kalau dilurusin namanya jadi rawon rebonding, donk!”
ReplyDelete> you have just given someone out there an idea!! :))
hmmmm...yummmy...lezaaat....thanks
ReplyDelete