Petualangan kuliner di Ibukota, membawa saya ke sebuah resto dengan menu tradisional yang dikemas modern style. Wow keren !
Diburu waktu untuk segera pulang ke Surabaya, saya memanfaatkan waktu sisa setengah hari untuk mampir ke salah satu resto di Plasa Senayan. Resto unik bernama TeSate. Resto ini menyimpan banyak keunikan. Karena letaknya tersembunyi. Saya sempat terkecoh melihat tampilan luar resto ini. Kesannya di luar hanya tempat buat ngopi. Hanya tersedia kursi dan meja kecil. Tapi, ketika saya dan Rey, mengutarakan maksud hendak makan siang. Si pramusaji mengajak kami memasuki lorong. Tak sekedar lorong rupanya, tata pencahayaan dan permainan video grafis yang terpantul di lantai, cukup membuat kami terkagum-kagum. Maklum, kepakkan sayap burung, seolah-olah memang nyata bergerak di lantai. Ah, rasanya sulit sekali untuk dideskripsikan.
Melihat buku menunya, cukup menarik karena menggunakan kipas sate sebagai alasnya. Hampir semua menu yang ditawarkan adalah makanan tradisional. Ada Tahu Telor, Urap Nangka, Pecel Tempe, Soto Ambengan, Bistik Jawa, Mie Godog Jawa, Sop Buntut dan masih banyak lagi. Yang jelas tidak ada menu western di sini. Membaca list menu, terus terang semua tempting, tapi sayang, tidak mugkin dapat mencoba semuanya. Saya memilih Sate, maklum saya pikir ini pasti jadi andalan. Namanya saja resto TeSate.
Ada empat pilihan sate: Sate Ponorogo, Sate Blora, Sate Kambing, Sate Lilit. Pilihan saya jatuh pada Sate Ponorogo, dengan pilihan sate daging, kulit dan puritan. Pilihan saya tak salah, sate ini disajikan di atas anglo. Ada bara api di dalamnya, membuat rasanya tetap terjaga. Bumbu kacangnya kental sekali. Tak lupa irisan bawang merah dan cabe iris. Potongan dagingnya besar-besar. Bisa lima kali lipat dari sate Ponorogo yang asli. Tak heran jika harga satu tusuk sate ini Rp 9 ribu. (Duh, saya benar-benar nggak ngerti kalau ukurannya super jumbo. Padahal saya terlanjur pesan sepuluh tusuk )

Presentasi hidangan ini bukan saja cantik, juga disajikan dalam porsi yang cukup besar. Nasi Goreng Kampung, yang dipilih Rey, ternyata sangat ‘mewah” meski ada gelar kampung di belakangnya.
Menggunakan baki kayu, sebagai alasnya. Seporsi Nasi Goreng Kampung, di atasnya ada irisan daging ayam dan sepotong telor ceplok. Sebagai pelengkap, ada tiga jenis kerupuk di atas piring. Ada kerupuk udang, puli dan mlinjo. Ini masih ditambah lagi dua tusuk sate ayam, dengan potongan daging berukuran besar.
Huahh…mewah sekali bukan ? Melihatnya cukup membuat terangsang, Meski menu tersebut pesanan Rey, tapi ingin rasanya mulut ini ikut merasakannya. Tanpa basa-basi lagi, suapan pertama pun mendarat.
Paduan bumbu ulek dan rempah menghasilkan rasa gurih di lidah. Hmmm..enak.
Tak hanya makanan, minuman juga ditata dalam kemasan modern. Kunyit Asam misalnya, bisa menjadi pilihan menarik. Saya memilih penyajian dingin. Segelas kunyit asam, disajikan di atas keramik segi empat. Ada selembar daun pandan. Uniknya, di atas sendok kecil ada dua permen thing-thing.
Uhmm… Nuansa tradisional yang dimunculkan membangkitkan kenangan pada penjual jamu gendong yang lewat di depan rumah. Biasanya, setelah minum ramuan galian singset, untuk menghilangkan rasa pahit, mbok jamu menyodorkan permen asam. Hehehe…
Tempat ini boleh dikatakan sempurna. Resto ini mengekspos setiap hidangan dengan kreativitas dan keberanian dalam menonjolkan rasa. Nuansa tradisional juga terbangun melalui ornamen khas Jawa. Ada lampu lampion yang bertuliskan huruf Jawa ditambah alunan gending Jawa yang terdengar lamat-lamat. Terus terang saya jadi ingat Embah, di Malang.
Wah, petualangan kuliner saya di Jakarta kali ini, bukan petualangan yang biasa. Dan, tak lupa terimakasih buat Rey, atas foto indah dan waktunya. Ah, akhirnya kita bisa berkolaborasi.
TeSate Restaurant
Plaza Senayan 4th floor unit CP 411
Jl. Asia Afrika, Jakarta 10270
t: (021) 572-5521
f: (021) 572-5356
www.tesate.com
Upddate :
Oh ya, soal kerak telor. Akhirnya saya dapat Kerak Telor. Yessssss..!!! Dibawain si Iko, masih hangat. Di antar langsung ke Gambir. Duh, terharu. Ucapan terima kasih juga, buat blogger Jakarta yang begitu ramah dan sabar menghadapi saya :). Buat Rey, yang mengantar, mengatur jadwal dan mendokumentasi semua kegiatan saya..cieeeee. Buat Azhar, atas kesabaran menjemput saya pagi-pagi di gambir. Buat Sandy, yang membuat saya selalu terheran-heran, antara kagum dan heran. Buat Cebong, atas tumpangan vespa-nya. Untung bannya nggak bledosss...hahaha. Buat Cak Met, teman seperjuangan dulu di Surabaya. Sukses untuk bisnis travel hajinya. Landy, Si Ustad Ganteng, yang menemani saya hampir tiga jam di Gambir, desak-desakkan gara-gara gerbong kereta anjlok. (heran..kenapa juga pas gerbong saya). Dan KECAP BANGO dan PT UNILEVER atas hadiahnya. Terima kasih semuanya......






