Wednesday, January 11, 2012

Mie Wetenge Jemblung

Menu yang satu ini membuat saya ingat perut Mat Solar

Foto by : Mendol

Setelah sukses dengan nasi goreng super pedasnya, Surabaya Plaza Hotel launching menu baru yaitu Mie Jemblung. Soal nama jemblung ini karena merujuk pada porsinya yang gede. Jadi mie ini bisa dinikmati 5 orang karena porsinya jumbo.

Hmm… tapi enggak, ding. Kalau makan sama saya, kayaknya cukup dimakan berdua….hihihi*nyengir kuda.

Pas launching, Chef Eko pun beraksi memasak.

Plang…plung, bumbu dicemplung
Srang…sreng, udang sama telur digoreng
Tang…Ting, wajannya dibanting! Hihihi…

“Hayo …siapa mau nyobain pertama!” teriak Chef Eko.


Temen-temen wartawan pada kasak –kusuk.
“Mendol suruh maju, dia khan jemblung!”

Ampun… padahal selama acara saya sudah nahan nafas, biar perut agak ramping
an. Tapi nggak ngefek ternyata.

Dipaksa maju, saya akhirnya malu-malu (in), nyoba satu porsi besar mie jemblung. Ajee..gile…porsinya maut. Sampai menggas- menggos juga nggak habis-habis!
Padahal sudah disundul minuman merem-melek, tapi tetep aja akhirnya kelenger dengan sukses!

Buat yang nggak ngerti jemblung, artinya perutnya gendut gitu, hmm.. kayak Mat Solar yang main Bajaj Bajuri. Soal Bang Bajuri, saya selalu ingat gayanya yang cuman pake sarung sama Kaos U Can See My Kelek.

Gara-gara kaos model gini. Saya jadi trauma. Jadi suatu hari, diajak My Sharuhkan olahraga. Iseng-iseng saya pake kaos kutungan, alias kaos tanpa lengan. Saya sih pede saja memamerkan lengan gempal dan peyut endut. Belum jauh jalan, saya dijawil sama My sharuhkan.

“Kamu kalau dilihat dari belakang, kayak Bajuri!” katanya bisik-bisik.

Oalaaa babe !! Saya kok disamain bajaj …eh Bang Bajuri!
Tidaaaaaaaakkkkkk


Mie Jemblung
Cafe Taman
Surabaya Plaza Hotel

Thursday, December 29, 2011

Lemak Is My Middle Name


Desain by Jujuk

Perbincangan dimilis kulinus Surabaya


"Namamu siapa ?"

"Manda Lemakwati!"

"Hah... bener, namanya ada lemaknya?"

"Serius!"

"Memang nama lengkapnya siapa?"

"Manda Lemakwati Tak Jenuh Ganda!"

"Whatt...!!!!" *ditimpuk pake gajih

Hueheheeheheh.....*kena deh

Oude Fabriek Track

Berkunjung ke pabrik kecap Jaman Mbiyen


Wah… seru pengalaman saya dan Anton kali ini. Kebetulan House of Sampoerna (HoS) punya program tematik Surabaya Heritage Track (SHT) bernama Oude Fabriek Track, tur tematik ini mengajak tracker mengunjungi industri-industri yang berlokasi di kawasan Surabaya Utara setiap hari Selasa hingga Kamis, pukul 09:00 – 10:30 selama bulan Desember 2011.

Jam 09.00 saya sama Anton sudah siap-siap. Sebelum berangkat, Anton ngecek lensa, batere, dan memori card. Saya nggak mau ketinggalan, cek roti, snack, cokelat, minuman ringan 2 botol. Sebenarnya saya mau nyari nasi bungkus, tapi Anton ngancem, kalau saya beli nasi bungkus, dia muthung moto.

“ Mbak Mendol... sampeyan sangunya kayak mo mudik, ini loh perjalanannya nggak sampai 20 menit,!”katanya ngamuk-ngamuk.

Yo wislah, daripada muncul tanduk di kepalanya, niat mo mbungkus nasi jagung, saya batalin. Ada tiga tempat yang kami kunjungi, Pabrik Siropen, Kecap Jeruk dan pabrik Misoa. Tapi kali ini mau cerita pas ke pabrik kecap jeruk dulu, yah.

Kecap yang satu ini ibaratnya kecap semua bakul di Surabaya. Bisa dicek deh, mulai bakul sate ayam keliling, rujak tolet, soto, pasti pakai kecap ini. Bentuknya jadul dan unik. Iya, soalnya mereknya masih pakai kertas tempelan gitu. Gambarnya dua orang pria dengan potongan jaman mbiyen.

Pabrik Kecap Cap Jeruk Pecel Tulen yang didirikan oleh Hwan Kieng Hien dan istrinya pada tahun 1937, usaha kecap ini semakin berkembang semenjak dikelola oleh generasi kedua, yakni Hwan Hong Piek dan Hwan Hong Poen. Di tangan generasi ke-3 citarasa kecap ini tetap tak berubah, soalnya resepnya masih sama.

Pemuja Kecap

Senang banget bisa berkunjung ke pabriknya yang berada di Sidonipah. Lokasinya disebuah kampung sempit. Pekerjanya rata- rata ibu-ibu. Biar tergolong manula, tapi jangan tanya tenaga mereka, wah, kayak Hulk. Saya ikut-ikutan ngaduk adonan kecap, tapi nggak sampai 5 menit nggak kuat. Panas…

Pas pulang, saya dihadang sama ownernya. Wah, ada apa yah? Agak mencurigakan sich. Habis dia menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.

Saya sudah masang kuda-kuda, dan siap mengeluarin jurus Gorila menghujam bumi. Lalu …

“Mbak, ini buat oleh-oleh!” katanya

Hah… saya dikasih kecap. Horeeeee…!!! Tapi sebenarnya saya sudah niat mau beli kecap, khan mumpung di pabriknya, tapi berhubung dikasih, ya sudahlah.

Oh iya, pas di sini, saya juga ngambil foto, tentu saja dengan petunjuk dari master saya si Anton. Biar sambil ngomel-ngomel, Anton mau juga minjemin kamera SLR –nya.

Foto hasil jepretan di Pabrik Kecap ini, saya kirimkan ke Panitia Pewarta Foto Indonesia (PFI), Allhamdulilah dua dari tiga foto saya , ikutan tampil di Pameran Moms to All, yang diadakan oleh PFI di Tunjungan Plasa 2 yang dipamerin tangal 22-25 desember lalu.

Bangga, campur tak percaya, soalnya foto saya dipajang sama Fotonya Bu Ani SBY, Dubes Amrik dan Bu Risma, Walikota Surabaya.* Ihii..... Senyum manis ala kecap jeruk


Saya sebenarnya lebih memilih difoto deh timbang motoin. Tapi keburu dibantai ama Anton.

“Mbak Mendol … sampeyan itu, nggak ada menariknya difoto, diambil dari sudut manapun!” kata Anton dengan nada menghina.

“Arek iki ancene mokong !!!* Ngurap wajah Anton ama Kecap.

Foto by Manda, kecuali foto pemuja kecap, by sopir SHT

Sunday, December 04, 2011

Kikil Saya

Jadi ingat waktu dulu saya makan kakinya squidward

Kali ini, saya ditugasi kantor untuk melobi Kikil Sapi Pak Said untuk tampil di acara Kuliner Khas Surabaya yang rutin diadakan sebulan sekali di Toeng Market.


Sebelumnya, saya sudah kenal sama Bu Said. Pertama waktu liputan, dan kedua pas diajak syuting sama Bango. Kali ini saya langsung menuju ke rumahnya di daerah sepanjang.Kedatangan saya ke rumahnya tidak mengejutkan, malah terlampau vulgar.



“Pak… masih ingat saya?” sok akrab


“Hmm..debt colector ya?” kata Pak Said dengan tatap curiga.

Yaelah, lihat lengan gempal, ama perut mekar langsung aja main nuduh debt colector.


“Ehemm.. saya itu loh pak, yang dulu pernah ke sini liputan, trus kita khan pernah syuting bareng!”


“Ohh... iya, mbak yang makannya banyak itu toh!” katanya sumringah


“Wadoh… diinget yang itu seh, pak!” isin dewe


Tidak lama Bu Said muncul.


“Loh mbak iki, mbiyen. Yang makan dua mangkok itu ya!” katanya super yakin.



Aduh…tobat. Ternyata adegan saya makan ugal-ugalan sampai dua mangkok benar-benar membekas di memori mereka. Tapi syukurlah mereka masih inget meski yang jelek-jelek. Sesudah menyampaikan maksud, dan ajakan untuk tampil di acara kuliner dan disambut gembira.


Saya langsung diajak Pak Sadi menuju dapurnya. Wah… pancinya besar-besar, setinggi saya. Kata Pak Said, Panci muat diisi orang segede saya.


“Coba, mbaknya mau masuk ke dalam panci,tah?” tawarnya.


Hiihihi… tega amir, kayaknya kaki saya yang segede paha sapi, cucok dibuat kikil, bok.


Usai sidak dapur dan makan di warungnya, kenyang plus dibikinin jus alpukat spesial. Saya pamit. Pas pulang Bu Said, menahan saya. Pipi saya dicubit-cubit. Lalu dicium kiri kanan. Dipeluk lama.


“Kenapa, bu?”


Wajahnya tersenyum, matanya berkaca-kaca. Bu Said memeluk saya lagi. Adegan dramatis ini cukup membuat hati saya tersayat pilu. Dan membalas pelukannya erat.


“Hmm..Mungkin saya mirip anak, atau cucunya yang hilang? Versi MD Entertaiment, Gorila yang tertukar, atau sinetron “Kupinang Engkau dengan Blewah?”


Adegan pelukan ini cukup lama. Saya sampai sesek, sebelum sampai pada tahapan nari-nari ala India. Saya keburu melepas pelukan Bu Said.Lalu sambil menatap saya, Bu Said berkata,


“Mbak, ibarat sapi, sampeyan iki sapi sonok *!” katanya gummun


"Hah... saya dipakdano sapi tibak'e! eMoooh!"


*sapi sonok = sapi gemuk yang dihias untuk dilombakan! weeeks


foto: Anton

Monday, November 07, 2011

Awas Tahu Gejrot

Dari semua jenis tahu, hanya tahu ini yang mengandung kebecekan


Di Surabaya sulit nyari penjual tahu gejrot. Pernah, teman saya di kantor, malam-malam sms. Tanya penjual tahu gejrot di Surabaya dimana? Tapi sayangnya saya nggak bisa jawab. Coba dia nanya tahu petis, tahu bulat, tahu crispy, tahu lontong! Saya pasti kasih tahu deh. Ndalalah kok, pas mau liputan ke Surabaya Hotel School (SHS) di Joyoboyo, saya malah ketemu penjual tahu gejrot. Langsung aja, saya suruh Anton si tukang ojek, buat minggir.

“Pak, gawekno yang superrrrrr pedes!” kata Anton
“Kalau mbaknya, lombok berapa?” tanya si penjual
“Saya, lombok satu tapi diparuh, pak!”
“Ha, kok aneh !!” katanya sambil geleng-geleng keheranan

Nama gejrot sendiri, kata si penjual, gara-gara kuahnya yang melimpah, dan ketika diulek bersama tahu, bunyinya jadi gejrat –gejrot gitu. Ya..untunglah nggak diberi nama Tahu becek or ngecembeng. Hihihihi….



Cara meraciknya mudah dan cepat. Tahu yang telah digoreng garing ini lalu dipotong kecil-kecil diletakan di atas mangkok. Bumbunya, cabe rawit, kemudian diberi irisan bawang merah dan bawang putih, dan diberi sedikit garam. Semuanya diulek kasar. Ulekan bumbu ini diguyur bumbu cair. “Ini campuran air gula merah, dan air asam,” katanya mengungkap rahasia di dunia pergejrotan.

Kata si penjual, kalau di Cirebon, aslinya, tahu gejrot disajikan di atas cobek kecil yang terbuat dari tanah liat. Nah, berhubung kuahnya banyak, dan sering amber, akhirnya dia memilih menggunakan mangkok saja. Yepp. Praktis sih, cuman sensasi bunyi gejrotnya jadi beda ya…

Rasa tahu gejrot ini memang nikmat. Paduan pedasnya cabe rawit, manisnya gula jawa, dan rasa segar dari asem, pas dengan tahu goreng. Karena melihat proses pembuatannya yang gampang. Saya jadi menyadari kesalahan kenapa dulu gagal di lomba tahu gejrot. Iseng-iseng, saya praktekin, buat tahu gejrot buat my sharuhkhan. Hasilnya …

“Ini tahu gejrot, apa semur, kok manis bangets!”

“Huaaah gagal maning… !”*histeris sambil nyokot Lap


Tahu Gejrot
PK5 Joyoboyo
Seberang Pom Bensin – sebelum SHS

Monday, October 24, 2011

Iwak Balung

Haiya..iya... iya. Saya ada undangan dari pemilik bebek goreng terkenal di Surabaya. Saking semangatnya, saya berangkat lebih awal, sengaja meninggalkan Anton yang asyik main onet di kantor. Janjian ketemu langsung di warungnya.


Kehadiran saya ternyata sudah ditunggu-tunggu. Langsung wawancara, blusukan ke dapur, dan foto taking. Kemudian saya sama Anton duduk anteng soalnya di suruh makan dulu. Dua piring dengan lauk bebek goreng menggoda saya.



“Tahan..tahan… belum dipersilahkan!” batin saya sambil ceklag ceklug kepengen.


Si pemiliknya ternyata suka bercerita, pertama nostalgia masa-masa merintis bisnisnya. Disambung lagi dengan cerita kisah cintanya, berlanjut ke cerita hobinya, lalu soal profil dirinya yang ada di TV ini, dimuat di koran itu.. dll.


Kuping saya memang mendengarkan, tapi mata saya nggak kompromi, liatin bebek goreng yang mengerling genit. Sini Mendol sayang…. sambil memamerkan kulitnya yang garing.


Lebih dari dua jam, si pemilik ini masih bercerita. Sementara di bawah meja, kaki saya sampai aboh diinjek sama Anton. Kode, supaya saya mengakhiri cerita berseri pemilik warung ini. Saya tak tahan lagi. Pas asyik cerita saya lalu nyelemur.


“Hmm..Pak, bebeknya itu kasihan dingin!”

“Tenang aja… biar dingin tetep empuk dan enak, kok!”


Duh… nggak kena nih sindiran saya


“Pak… bebeknya kayaknya enak, jadi kepingin!” blak-blakan

“Hahaha… . Memang banyak yang suka. Allhamdulilah, ya *Syahroni wannabe


Walah… piye to iki, kapan adegan makannya.* gremeng

Ternyata inisiatif muncul dari Anton. Berdiri menuju wastafel. Cuci tangan.


“Pak, saya makan ya!”

“Oh iya… silahkan. Ayo.. ayo!”


Hiyaaaaa…. Dari tadi napa, Pak! Disediakan dua potong bebek goreng dan satu ekor bebek utuh. Asyik.Supaya kelihatan priyayi, saya ambil satu potong bebek. Niatnya, ntar yang satu ekor dimakan nggak pake nasi. Lumayan nih.


Nasinya saya makan dikit-dikit. Di eman supaya nanti makan sama satu bebek goreng utuh. Pas tengah-tengah makan, tiba-tiba si bapak ini manggil pegawainya.


“Ti.. iki bebeknya diringkes ke dapur, nggih!” katanya sambil ngambil satu ekor bebek goreng utuh itu.


Ha...!Lho.kok!

Ojok, po’o. Pak’e! *bathin sambil panik blingsatan.


Yaa… ternyata bebeknya cuman dipamerin aja. Anton yang lihat muka saya senep gethu malah ngeledek.


“Makane tah, ojok gaya tok. Rasakno!”

“Huhuuu… bebek gorengku!”* Sambil makan nasi nyel, sama balung bebek.


Foto: Anton

Friday, September 30, 2011

Pertanyaan SARA

Berdiri di depan meja, untuk register undangan Food Panel

foto: sijagomakan

“Atas nama siapa mbak?”
“Manda”

“Beratnya?”
“Hah...apa!!”

“Oooh… ma...maaf. Maksud saya, umurnya?”* dengan wajah ketakutan

Giliran saya kok ditanya berat badan. Grhhh... * Kalap, pengen ngerakoti mbaknya!

Monday, September 26, 2011

Nasi Campur Korea

Liputan kali ini membuat saya histeris…!!!!

Ambil nafas… Puehhhh. Saya kena virus demam Korea nih. Sekarang hobi banget nyari DVD Korea. Deman korea, ini juga kebawa-bawa di kantor. Wallpaper yang dulunya, gambar Mas Matthew Belammy, saya ganti sama Lek Min Hoo.. Hehehe… biar nggak diolok-olok saya pasang gambarnya yang resolusinya kuecillll biar saya aja yang bisa lihat.foto : ayub

Susah juga kene virus ini. Pernah mata saya bengkak, gara-gara mantengin serial drama korea 24 episode sehari semalam.Hu..hu ..hu. Soalnya penasaran. Dan saya itu punya kebiasaan dari dulu, kalau baca buku, harus urut. Nggak ada namanya baca depan terus melompat-lompat ke halaman terakhir. Ini berlaku pula nonton DVD, biar episodenya sampai puluhan, dan penasaran hampir mampus, saya tekun ngikutin episodenya.

Saya sering bingung lihat aktor korea, wajahnya mirip semua, bodynya lencir, kayak nyiur melambai. Tapi yang bikin saya ngga kuattttt duh….lihat model rambutnya. Kiyutttttttt. Duh Lek..lek MinHoo..situ pake shampo apa, ya? Pake shampo nomor berapa di dunia?

Isi kepala ini rasanya Korea mulu. Pas rapat redaksi, saya ngusulin buat liputan resto Korea. Dan bahagianya ternyata usulan saya diterima. Yess!!

Setiap lihat serial drama korea, selain mantengin bintangnya yang cakep-cakep, saya paling suka adegan makan. Saya catat tuh, bahannya, penyajiannya, cara makannya. Misalnya, Pas Kim Nana yang main di City Hunter, mabuk minum Soju, minuman alkohol khas Korea. Atau salah satu adegan di Princess Hour, yang menceritakan mengapa makanan Korea memiliki banyak unsur warna. Atau Han Ji En, di Full House, masak bulgogi. Jadi, kalau adik saya termehek-mehek karena adegan romatisnya, saya malah nangis, pas lihat adegan makan. Lha kepengen soale.

Saya berangkat liputan bersama si Ayub, mahasiswa Petra yang lagi magang. Kali ini ke resto Djangheum. Disodorin buku menu mata saya jelalatan nyari makanan yang enak. Soalnya, ini liputan khan inisiatif, bukan undangan, jadi ya, bayar sendiri dong.


Terinsipirasi adegan makan di salah satu serial korea, saya akhirnya pesan nasi campur Korea, yang disebut Bibimbap. Menu nasi campur Korea ini terdiri, semangkuk nasi putih dengan lauk di atasnya berupa sayur-sayuran, daging sapi, telur, sayuran, taburan wijen.Sebelum dimakan, nasi dan lauk diaduk menjadi satu. Bibimbap yang dihidangkan dalam mangkuk dari batu yang sudah dipanaskan disebut Dolsot Bibimbap (dolsot berarti mangkuk batu).

Saya sempet nggak selera lihat telor mata sapi yang setengah matang. Ternyata kata mbaknya, panas dari mangkuk batu akan mematangkan telur mentah. Oooh…

Jika Anda memesan menu ini di restoran Korea, sebelum menyantap hidangan ini, biasanya akan disediakan Namul sebagai hidangan pembuka. Berbagai jenis namul dapat dihidangkan dalam satu kesempatan diletakkan dalam mangkok dalam porsi kecil. Jadi inget nasi padang.

Biar porsinya kecil. Tapi kenyang karena banyak macemnya. Salah satu ciri khas makanan Korea, selalu disediakan kimchi. Itu..sayuran yang mirip asinan Betawi.
Ternyata, nasi campur korea, nggak cucok sama selera saya. Aneh. Soalnya diaduk-aduk. Kita aja kalau makan nasi campur nggak dicampur baur gitu. Yang benar-benar enak Bulgogi sama Sup Ayam Ginseng.

Sambil makan, saya sempet ngayal, seandainya saya di Korea beneran, dan makan sama Lek Min Hoo, ah pasti seru. Hmm… Lek Min Hoo makan bareng sama Bulek Mendol, yuuuk!. Ihiiii……. Biar harus ngabisin kimchi satu drum ane jabanin dah!

---------------------
Nb: Peluk erat buat sepupuku Dini yang sedang menempuh S2 di Busan-Korea. Annyeong Haseo